Keagungan Waktu Dhuha: Tafsir Ibnu Katsir Ad-Dhuha Ayat 1
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, penafsiran Surat Ad-Dhuha ayat 1 tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan surat, karena ayat-ayatnya saling terkait. Secara khusus, ayat pertama (وَالضُّحَىٰ - Waḍ-ḍuḥā) sering kali dijelaskan bersamaan dengan ayat-ayat berikutnya, terutama ayat 2 dan 3, karena adanya sebab turunnya (Asbabun Nuzul) yang melatarbelakangi.
Berikut adalah ringkasan tafsir Ibnu Katsir untuk Surat Ad-Dhuha ayat 1:
1. Sumpah Allah dengan Waktu Dhuha
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah bersumpah dengan waktu dhuha. Dhuha adalah waktu ketika matahari mulai naik dan siang hari mulai terang.
Sumpah Allah ini memiliki makna penting, yaitu untuk menunjukkan keagungan waktu tersebut dan juga objek yang dijadikan sumpah.
Sumpah ini menguatkan pernyataan yang akan disampaikan setelahnya, yaitu bahwa Allah tidak meninggalkan Nabi Muhammad ﷺ.
2. Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)
Ibnu Katsir mengemukakan riwayat-riwayat yang menjadi latar belakang turunnya surat ini.
Salah satu riwayat yang paling terkenal berasal dari Jundub bin Abdullah Al-Bajali. Ia menceritakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ pernah mengalami sakit selama satu atau dua malam, sehingga beliau tidak bisa melaksanakan shalat malam (qiyamul lail).
Karena hal ini, seorang wanita (yang dalam beberapa riwayat disebutkan sebagai istri Abu Lahab, Ummu Jamil) datang dan berkata, "Wahai Muhammad, menurutku setanmu telah meninggalkanmu." Maksudnya adalah malaikat Jibril yang membawa wahyu kepada beliau.
Sebagai respons atas ucapan tersebut, Allah menurunkan firman-Nya, "Demi waktu dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak (pula) membencimu." (QS. Ad-Dhuha: 1-3).
Dengan demikian, sumpah Allah pada ayat pertama ini adalah penguat dan penegasan bahwa Dia tidak pernah meninggalkan atau membenci Rasul-Nya. Sumpah ini menolak tuduhan kaum musyrik yang mengejek beliau.
3. Keterkaitan dengan Ayat Selanjutnya
Tafsir Ibnu Katsir tidak memisahkan ayat pertama dari ayat kedua dan ketiga. Sumpah dengan waktu dhuha dan malam (ayat 1 dan 2) menjadi pengantar untuk menjelaskan pesan utama di ayat ketiga, yaitu penolakan terhadap tuduhan kaum musyrik bahwa Allah telah meninggalkan Nabi Muhammad ﷺ.
Secara ringkas, tafsir Ibnu Katsir untuk ayat pertama Surat Ad-Dhuha menegaskan bahwa ayat ini adalah sumpah Allah dengan waktu yang mulia (waktu dhuha) untuk menenangkan hati Nabi Muhammad ﷺ dan menepis tuduhan kaum musyrik bahwa wahyu telah terhenti dan Allah telah meninggalkannya.
Komentar
Posting Komentar